Kategori: Uncategorized

Review Film Ivanna: Teror Noni Belanda Tanpa KepalaReview Film Ivanna: Teror Noni Belanda Tanpa Kepala

Film yang masih satu universe dengan Danur, tokoh hantu yang ditulis Risa Saraswati ini, memang menjadi salah satu yang ditunggu tahun ini.
Terbukti, hanya dalam tiga hari penayangannya saja, ‘Ivanna’ sukses meraup setengah juta lebih pononton.
“Tembus 500.000++ penonton yang diteror Ivanna di bioskop!” tulis MD Pictures, rumah produksi film yang memproduseri Ivanna, melalui Instragram resminya, Minggu (17/7/2022) kemarin.

“Terima kasih antusias kalian untuk melihat Ivanna yang kembali membawa dendamnya,” lanjut keterangan tersebut.

Film yang disutradarai Kimo Stamboel ini memang dianggap keluar dari pakem film-film sebelumnya, yang banyak mengandalkan nuansa horor-supranatural untuk menciptakan atmosfer mencekam.

Kimo, yang memang terkenal dengan karya film-film ‘sadis’, menambahkan kesan yang menjadi ciri khasnya tersebut dalam ‘Ivanna’.

Alhasil, sutradara yang kondang berkat film yang ia bidani: ‘Rumah Dara’ (2010), ‘DreadOut’ (2018), ‘Ratu Ilmu Hitam’ (2019) ini, sukses menciptakan nuansa seram sekaligus brutal dengan berbagai adegan berdarah-darah sepanjang 1 jam 43 menit film berlangsung.

Film ‘Ivanna’ sendiri dibintangi oleh sejumlah artis muda Indonesia, yakni Caitlin Halderman, Jovarel Callum, Junior Roberts, Shandy William, dan Sonia Alyssa.
Sinopsis Ivanna: Dendam Noni yang Cinta Pribumi

‘Ivanna’, sebagai mana film-film lain dalam universe ‘Danur’, adalah hasil adaptasi novel karya Risa Saraswati berjudul ‘Ivanna van Dijk’.

Baca Juga : Scream 5 2022 , Requel Terbaru Film Horror Ikonik Paling Ikonik!

Film ini sekaligus menjadi spin-off ‘Danur 2: Maddah’ yang tayang 2018 lalu.

Film ‘Ivanna’ mengisahkan teror hantu Ivanna (Sonia Alyssa), seorang perempuan Noni Belanda berambut pirang. Ia beserta keluarganya diceritakan begitu baik kepada rakyat pribumi. Namun, kebaikannya itu justru tak terbalas.

Bahkan, Ivanna akhirnya mengalami kematian tragis karena dibunuh tentara Jepang saat perpindahan kekuasaan pada tahun 1943. Ironisnya, kematian tersebut ada campur tangan para pribumi, kaum yang ia cintai.

Alhasil, Ivanna pun menjadi arwah penasaran. Bahkan, ia bersumpah akan membalas dendam ke kaum yang dianggap telah berkhianat dan membuatnya meninggal.

“Setiap tetes darah saya yang menetes, tidak akan membuat hidup kalian mudah,” sumpahnya, mengiringi kematian perempuan pirang ini, yang dipenggal kepalanya.

Singkat cerita, bertahun-tahun kemudian, arwah Ivanna meneror orang-orang di panti jompo—yang dahulu adalah rumahnya, tepat di Hari Raya Lebaran tahun 1993.


Hantu Tanpa Kepala yang Ikonik

Dalam film ini, ada satu hal yang begitu ikonik: hantu tanpa kepala.Ya, Ivanna meregang nyawa setelah kepalanya dipenggal dengan katana Jepang. Alhasil, ia pun bergentayangan dalam sosok hantu tak berkepala.

Teror itu bermula tatkala Ambar (Caitlin Halderman), perempuan dengan keterbatasan penglihatan tapi mampu melihat hal-hal supernatural, berkunjung ke panti jompo untuk merayakan libur lebaran bersama saudaranya.

Kejadian tidak terduga dialami Ambar setelah ia terjatuh ke dalam ruang bawah tanah bangunan tersebut. Di ruang bawah tanah, ia menemukan sebuah patung tanpa kepala yang duduk di pojok ruangan dan tertutup kain putih.

Patung tersebut tak disangka ialah Ivanna, hantu Noni Belanda yang bersiap untuk balas dendam.
Berbagai kejadian aneh kemudian dialami Ambar dan keluarganya tidak lama setelah peristiwa itu.

Yang paling menyeramkan adalah hantu Ivanna tak sekadar Situs Slot Gacor bergentayangan dan menghantui penghuni panti, tapi ia juga membunuhnya satu per satu.

Ivanna menganggap, semua pribumi berdosa atas apa yang menimpanya. Hantu Ivanna mulai menebar teror dengan membunuh dengan cara memenggal kepala orang-orang.

Gambaran bagaimana Ivanna membantai orang-orang dengan cara sadis menciptakan pengalaman seram, brutal, sekaligus ngilu bagi para penonton.

Sinematografi yang Brilian
Selain disajikan dengan adegan-adegan brutal, Kimo juga menghadirkan sesuatu yang segar secara sinematografis.

Misalnya, bagaimana ia membawa penonton ke sudut pandang Ambar, yang mengalami keterbatasan dalam melihat—namun bisa melihat hal-hal gaib—untuk menampilkan Ivanna (spoiler alert).

Ambar sama sekali tidak melihat apapun di dunia nyata. Ia hanya bisa mendengarkan Ivanna dan kejadian-kejadian masa lalu melalui suara-suara di interkom.

Namun, bermodal interkom itu pula, orang-orang lain di panti tersebut juga ikut mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi pada Ivanna.

Bahkan, setiap rekonstruksi peristiwa yang dilihat Ambar melalui mata batin, juga mewujud dalam bentuk bayangan siluet dari cayaha senter. Secara sinematografis, adegan begitu cerdik dan unik, dan menjadi sesuatu yang baru di film horor Indonesia.

Selain itu, dalam merekonstruksi peristiwa di masa lampau (flashback), Kimo menggunakan cara yang brilian pula.

Sedikit demi sedikit dari masa lalu yang dialami Ivanna juga tergambar melalui suara-suara di interkom dan mata batin Ambar.

Kimo secara cerdas tidak langsung menampilkan semua peristiwa di masa lalu. Namun, ia menggunakan keterbatasan Ambar untuk menumpahkan teka-teki sedikit demi sedikit hingga di akhir film.

Dengan demikian, sampai penghujung film, misteri tetap terjaga dan rasa ingin tahu penonton tetap ada tentang apa yang sesungguhnya terjadi dengan Ivanna.